The Most Popular Traffic Exchange

Selasa, 10 Desember 2013

Di Ujung Penantian



Namaku Setia, sesuai dengan namaku, orang tuaku berharap selalu setia dalam menghadapi suatu kondisi. Setia kepada pengharapan. Tapi bagi sebagian banyak orang, menunggu adalah kegiatan yang membosankan. Tapi bagiku menunggu adalah kesetiaan. Aku teringat setahun yang lalu aku pernah berjanji dengan Kasih untuk bertemu di bawah pohon mangga di atas bukit Asa ini. Telah kami tentukan tanggal 25 Juni tahun ini, tepat kami berumur 17 tahun. Kami berencana akan membuka pesan yang telah kami tanam ketika kami berpisah karena Kasih mengikuti orang tuanya yang bertugas di luar kota. Namun Kasih sudah berjanji kepadaku, kalau ia akan tetap mengunjungi kampungku tepat dia berusia 17 tahun. Kebetulan ulang tahun kami bersamaan.
“Eh, Setia ngapain kamu duduk di situ?” Teriak Heru membuyarkan lamunanku.
Ah kamu Her, ngagetin aku aja”Jawabku.
Habisnya kamu aneh deh, ngapain kamu duduk di bawah pohon mangga, mau nunggu mangga jatuh, kan ini bukan musim mangga?”
“Aku cuma mencari ketenangan aja di sini, lihat tuh dibawah sana kelihatan pemandangan yang sangat indah kan Her?”
“ Iya sih, ya udah kalau tidak ada apa-apa, aku cari rumput dulu ya, kasihan kambing-kambingku kelaparan.”
“Oke hati-hati ya.”
            Sepeninggalan Heru, kembali aku dalam lamunanku. Masih kuingat pesan yang kutulis dan kumasukkan dalam botol. Botol itu aku tanam persis di bawah pohon mangga ini. Kutandai di atas timbunan tanah ini sebuah batu seukuran bola kaki. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kasih. Pesan yang ada dalam botol itu berisi pesan yang aku tujukan untuk Kasih, begitu juga kasih juga menuliskan pesan untukku di dalam botol itu. Pesan itu akan kami baca bersamaan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu hari ini.
            Kulihat jam menunjukkan jam 15.00 sore. “Akankah Kasih menepati janjinya?”pikirku. Aku sudah menunggu di bawah pohon ini sejak pagi tadi. Kebetulan hari ini liburan kenaikan sekolah. Aku berharap Kasih tidak lupa akan janjinya. Di sini aku menunggu kedatangannya. Awan yang gelappun menyelimuti angkasa. Bertanda sebentar lagi hujan akan turun. Benar juga air hujanpun membasahi tubuhku.Tak kuhiraukan raga yang menggigil ini karena kedinginan. Karena harapan telah menghangatkan tubuhku. Menunggu Kasih yang selama satu tahun ini tidak ada kabarnya.
            Setelah hampir dua setengah jam, hujanpun reda. Masih setia aku menunggu kedatangan Kasih. Walau penantian ini berujung ataupun tidak, aku tetap menunggu. Akupun bangkit dari dudukku. Kulihat pohon mangga tua yang menjadi saksi kesetiaan menunggu. Kusandarkan tubuhku, berharap pohon mangga ini membisikkan kata, menemani aku dalam kesunyian. Kupandangi sekeliling pohon mangga ini. Memang semuanya sudah berubah. Sekitar pohon ini sudah ditumbuhi rumput-rumput yang tinggi. Dan ada beberapa pohon yang lain sudah ditebang. Yang tersisa adalah pohon mangga ini, tempat dimana aku dan Kasih menyimpan pesan harapan. Masih terlihat jelas batu sebagai penanda timbunan tanah yang berisi botol pesan itu.
Sebentar lagi hari mulai gelap. Namun Kasih belum datang. Ingin sekali aku akan membuka pesan itu sendiri. Jadi aku akan tahu, pesan apa yang telah ditulis Kasih untukku. Tetapi kuurung niatku, karena aku tidak akan melanggar kesepakatan kami. Di ujung penantianku, kulihat ada seberkas cahaya yang menuju ke arahku. Setelah sudah dekat, ternyata dia adalah Kasih. Betapa senang hatiku.
Hei Setia, kamu masih menunggu ya, maaf ya.” Kata Kasih.
“ Tidak apa-apa, syukurlah kamu datang, kirain kamu lupa.” Jawabku.
“Ayo kita ambil pesan yang kita tulis tahun lalu”Ajak Kasih
“ Ayo.”Jawabku penuh semangat.
Akhirnya aku menemukan pesan yang ditulis Kasih yang berisi “ Setia tetaplah kamu Setia menungguku – Kasih – “. Kasihpun membaca pesan yang aku tulis untuknya “ Kasih aku tetap setia Menunggumu – Setia –“. Setelah membaca pesan, kamipun saling berpandangan dengan penuh senyuman bercampur bahagia dan cinta. Kami adalah Setia Kasih.

Tri Sadono
Guru SD Negeri Margolelo
Kecamatan Kandangan
(Cerpen ini telah merupakan salah satu bagian kumpulan cerpen yang telah dibukukan dengan judul “Menunggu Lelah Dalam Durasi Jilid 2”  yang diterbitkan oleh Penerbit Harfeey Yogyakarta dengan ISBN : 978-602-7876-71-2 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar